Tarsius Makassar: Laboratorium Hidup di Kawasan Wallacea yang Memikat

Tidak ada suara bising atau gemerlap lampu kota di sini. Yang ada hanyalah suara rintik air dari dinding bukit batu kapur (karst), gemerisik dedaunan, dan kadang-kadang, cuitan bernada tinggi yang khas. Di tengah gelapnya hutan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, bola mata besar itu kembali terbuka lebar.

Ia adalah tarsius makassar (Tarsius fuscus). Bobotnya hanya sekitar 113–133 gram, tetapi ia adalah satwa liar malam di ekosistem karst Sulawesi Selatan. Primata nukturnal endemik ini menjadikan Kawasan Suaka Tarsius Makassar (Sanctuary Tarsius fuscus) seluas 6,17 hektar sebagai habitatnya. Para ilmuwan dunia dan wisatawan menjadikan suaka tersebut sebagai pusat penelitian, pendidikan, sekaligus destinasi ekowisata premium yang mengintegrasikan konservasi dan pembelajaran alam.

Laboratorium Hidup di Karst

Bayangkan berjalan di sepanjang canopy trail di atas permukaan tanah, melewati tebing kapur yang telah terbentuk jutaan tahun lalu. Itulah pengalaman yang ditawarkan Suaka Tarsius Makassar, yang terletak di Kawasan Wisata Pattunuang, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, sekitar 44 kilometer dari Makassar. Kawasan ini memiliki topografi datar dan berbukit dengan jenis tanah Eutropepts yang menjadi karakteristik khas ekosistem karst yang rapuh namun kaya hayati.

Bagi para peneliti, tempat ini adalah surga. Berdasarkan data Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, sedikitnya 28 penelitian telah dilakukan tentang tarsius makassar di sini sejak 2009, mulai dari studi S1 hingga kolaborasi internasional. Tidak hanya dari Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Makassar, Institut Pertanian Bogor (IPB) atau Institut Teknologi Bandung (ITB), peneliti asing pun bertandang. Myron Shekelle, peneliti Amerika Serikat, Christine Driller, peneliti Jerman dengan mitra kerja Pusat Studi Primata IPB pernah datang untuk mempelajari filogeni dan filogeografi tarsius Sulawesi.  Kehadiran peneliti asing ini membuktikan bahwa primata mungil dari Wallacea menyimpan jawaban penting atas perjalanan evolusi di kawasan yang unik secara biogeografis ini.

Penelitian lain yang tak kalah penting adalah Adin Ayu Adriyani dari Fakultas Biologi UGM dengan meneliti distribusi dan preferensi sarang tidur tarsius di empat resor berbeda. Begitu pula dari Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar yang menganalisis keanekaragaman pakan tarsius. Bahkan, dunia seni pun tertarik: Andi Afif Rofii, mahasiswa magister Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, menjadikan tarsius sebagai objek penelitiannya. Ia melakukan penelitian dengan judul “Juxtaposition: Tarsius dan Kustom Kulture”. Sebuah eksplorasi seni rupa berbasis dark ecology yang menyoroti kerapuhan lingkungan lewat simbol tarsius.

Tarsius ini unik. Dia adalah predator nokturnal,sebagai satu-satunya primata karnivora. Matanya tidak bisa bergerak, tapi lehernya bisa berputar 180 derajat, seperti burung hantu. Keunikan inilah yang membuat para peneliti dari berbagai disiplin ilmu terus berdatangan, dari biologi konservasi, ekologi perilaku, hingga seni dan budaya.

Salah satu keberhasilan Suaka Tarsius Makassar adalah lahirnya tarsius makassar di kandang habituasi. Pada 1 Desember 2025, lahirlah bayi bernama TERA, disusul TARO pada 7 Februari 2026. Kelahiran ini adalah sinyal hijau bahwa habitat buatan semi-alami, mampu menekan tingkat stres yang selama ini menjadi musuh utama tarsius. Habitat buatan tersebut berupa kandang habituasi berukuran 24×18 meter dengan tinggi 6 meter, dan kandang penelitian berdiameter 12 meter.

Keberhasilan ini menandakan program adaptasi dan kesejahteraan satwa berjalan dengan baik. Hal tersebut memperkuat potensi peningkatan populasi dalam mendukung strategi pertumbuhan dan keberlangsungan hidup tarsius sebagaimana dituangkan dalam Rencana Aksi Pengelolaan Suaka Tarsius Makassar 2026–2035.

Lebih dari Sekadar Tur Malam

Namun, pesona Night Safari Tarsius, paket ekowisata unggulan berbasis konservasi, hanyalah satu sisi dari mata uang ekowisata di sini. Suaka Tarsius Makassar telah bertransformasi menjadi kelas dunia terbuka: laboratorium hidup. Tak hanya menarik wisatawan, tetapi juga menjadi pusat magang, praktik lapangan, studi biodiversitas, dan bahkan benchmarking antar lembaga konservasi.

Kegiatan Observasi Biodiversitas yang diselenggarakan oleh International Forestry Students’ Symposium (IFSS) 2025 di Suaka Tarsius Makassar, Kawasan Wisata Pattunuang, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung – Foto: Ist

Data Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung mencatat deretan panjang kegiatan non-turistik yang menjadi tulang punggung konservasi. Beberapa kegiatan non-turistik tersebut di antaranya: program magang, praktik lapangan, Benchmarking, Simposium dan Observasi Biodiversitas Internasional.

Program Magang dan Praktik Lapang: Setiap tahun, puluhan mata muda belajar di sini. Pada 2024 saja, mahasiswa dari Fakultas Sains dan Teknologi UIN Alauddin Makassar, Poltekpar NHI Bandung, Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin, Fakultas Kehutanan Universitas Tadulako menjalani magang. Sementara itu, siswa dari SMK Kehutanan Mamasa dan SMK Kehutanan Negeri Makassar mengasah keterampilan teknis melalui praktik kerja lapang yang berlangsung berhari-hari hingga berminggu-minggu. Mereka belajar Pengelolaan Suaka Tarsius Makassar.

Tahun 2025 dan 2026 menunjukkan peningkatan signifikan: Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin mengirimkan tiga gelombang magang secara berturut-turut. Prodi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Islam Makassar dan Prodi Pariwisata, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Hasanuddin juga turut serta melalui kuliah lapang. Hal tersebut menunjukkan tingginya minat dunia pendidikan terhadap model pengelolaan Suaka Tarsius Makassar.

Benchmarking Lintas Daerah: Tidak hanya pendidikan formal, lembaga konservasi dari daerah lain juga datang belajar. Balai KSDA Sumatera Selatan melakukan benchmarking pada Desember 2024. Mereka ingin meniru kesuksesan model pengelolaan Suaka Tarsius Makassar yang dinilai efektif memadukan kandang habituasi, kandang penelitian, dan mekanisme pelepasan individu ke alam liar.

Simposium dan Observasi Biodiversitas Internasional: Puncaknya terjadi pada Agustus 2025, saat International Forestry Students’ Symposium (IFSS) hadir. Sebanyak 85 delegasi dari 19 negara berjalan di jalur yang sama dengan peneliti Jerman dan Amerika Serikat sebelumnya. Mereka datang bukan sekadar untuk berfoto, tetapi untuk mempelajari secara mendalam bagaimana ekosistem karst yang rapuh ini, mampu menjadi benteng terakhir bagi satwa endemik. Bagi para delegasi, tarsius makassar adalah metafora dari perjuangan konservasi global di tengah tekanan perubahan iklim dan hilangnya habitat.

Dengan adanya aktivitas-aktivitas ini, Suaka Tarsius Makassar bukan lagi sekadar pusat konservasi tarsius makassar di karst. Ia adalah pusat pembelajaran ekologi terapan yang melayani berbagai jenjang pendidikan, dari sekolah menengah kejuruan hingga pascasarjana, dari tingkat lokal hingga internasional.

Setiap orang yang datang, baik wisatawan, mahasiswa magang, atau peneliti, pulang dengan membawa cerita konservasi yang sama. Bahwa melindungi tarsius makassar berarti melindungi sumber air, karst, dan masa depan.

Antara Ancaman dan Harapan
Siswa-siswi SMK Kehutanan Negeri Makassar melaksanakan program Praktik Kerja Lapang Pengelolaan Suaka Tarsius Makassar, Kawasan Wisata Pattunuang, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung – Foto: Ist

Menjadi “Rentan” (Vulnerable) dalam daftar merah IUCN (International Union for Conservation of Nature) bukanlah sekadar label konservasi. Ia adalah alarm yang berbunyi keras, menuntut perhatian segera dari para ilmuwan, pengelola kawasan, dan masyarakat luas. Di balik status ini, tersimpan ancaman nyata yang setiap hari membayangi kelangsungan hidup tarsius makassar. Hilangnya habitat akibat alih fungsi lahan, perburuan dan perdagangan liar, tekanan dari predator alami, serta risiko stres dari interaksi manusia adalah ancaman nyata yang mengintainya. Di alam yang semakin bising, primata nokturnal ini berjuang dalam sunyi.

Namun, di tengah gentingnya situasi, Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung tidak tinggal diam. Berbagai upaya strategis telah dijalankan secara terpadu, tidak hanya untuk melindungi tarsius dari kepunahan, tetapi juga untuk memulihkan kepercayaan diri satwa ini terhadap alam liar. Langkah-langkah tersebut meliputi perlindungan dan pengamanan, pemulihan ekosistem, penyuluhan, dan pemberdayaan masyarakat. Tak hanya itu, pengelolaan Suaka Tarsius Makassar serta usulan mendesak penetapan kembali tarsius makassar sebagai satwa yang dilindungi dalam peraturan nasional.

Suaka Tarsius Makassar juga mengembangkan paket “Night Safari Tarsius” dengan etika konservasi yang ketat. Setiap pengunjung wajib didampingi pemandu, dilarang menggunakan lampu kilat (flash), dan diterapkan sistem kuota untuk membatasi jumlah pengunjung. Hasilnya, tekanan langsung terhadap habitat dapat ditekan tanpa mengurangi nilai informatif dan pengalaman wisata yang bermakna.

Yang membanggakan, data monitoring menunjukkan tren positif. Berdasarkan dokumen “Dinamika Populasi Tarsius Makassar 2011–2025”, populasi tarsius di kawasan Suaka meningkat sebesar 125% sejak 2019, dari 16 individu menjadi 36 individu pada tahun 2025. Dibandingkan tahun 2024, populasinya stabil di angka 36 individu.

Sementara itu, di lokasi monitoring Sungai Pattunuang populasinya meningkat 47% dari 77 individu (2011) menjadi 113 individu (2025). Lokasi monitoring tersebut merupakan situs prioritas nasional berdasarkan Surat Keputusan Dirjen KSDAE Nomor SK.180/IV-KKH/2015. Kelahiran bayi TERA dan TARO di kandang habituasi semakin memperkuat bukti keberhasilan program ini.

Langkah Menuju Perlindungan Nasional
Selama masa magang, para Mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin (UNHAS) mempelajari Pengelolaan Suaka Tarsius Makassar, Kawasan Wisata Pattunuang, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung – Foto: Ist

Perjalanan panjang tarsius makassar diakui sebagai salah satu satwa prioritas berdasarkan Surat Keputusan Dirjen KSDAE Nomor SK.180/IV-KKH/2015. Namun, status internasional sebagai satwa rentan (Vulnerable) di IUCN ternyata belum cukup. Untuk itulah, pada November 2025, Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung mengajukan usulan resmi kepada Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Dirjen KSDAE). Usulan agar tarsius makassar (Tarsius fuscus) ditetapkan sebagai Satwa Dilindungi Nasional Indonesia.

Langkah ini sangat penting untuk menjamin kelestariannya, menjaga keseimbangan ekosistem, serta memperkuat komitmen Indonesia dalam konvensi keanekaragaman hayati global. Tak kalah urgennya adalah kesadaran publik tentang pentingnya melindungi primata endemik ini akan meningkat secara signifikan. Dokumen “Kajian Ilmiah dan Usulan Penetapan Tarsius Makassar sebagai Satwa Dilindungi Nasional” telah disusun secara sistematis oleh Tim Kerja Suaka Tarsius Makassar.

Dokumen Strategi dan Rencana Aksi Pengelolaan Suaka Tarsius Makassar 2026–2035 juga telah diintegrasikan ke dalam Rencana Pengelolaan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung 2026–2035. Rencana ini mencakup empat strategi utama: Growth, pengembangan penelitian dan ekowisata serta kerjasama multipihak; Stability, penyusunan dokumen perencanaan dan peningkatan sarana-prasarana; Diversification, kampanye kesadaran konservasi “Save Tarsius” dan festival konservasi; serta Survival, studi banding dan mitigasi ancaman.

Rencana Ekspedisi Anda
Kunjungan dosen Universitas Hasanuddin dan peneliti asing ke Suaka Tarsius Makassar, Kawasan Wisata Pattunuang, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung – Foto: Ist

Bagi para pembaca yang tergoda untuk melihat langsung “boneka hidup” bermata bundar ini, Suaka Tarsius Makassar, di Kawasan Wisata Pattunuang, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung terus membenahi diri. Penguatan program penelitian, magang, dan kuliah lapang juga terus digalakkan, menjadikan Suaka Tarsius Makassar sebagai pusat konservasi, penelitian, dan ekowisata tarsius makassar di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.

Dari total 36 individu tarsius yang tercatat di Suaka Tarsius Makassar pada 2025, peluang melihat mereka di alam liar cukup tinggi. Peluang terbesar terutama menjelang subuh ketika mereka kembali ke sarang. Sarang tarsius biasanya berupa lubang atau celah karst, pohon atau rumpun bambu, yang menjadi tempat beristirahat setelah berburu serangga sepanjang malam. Yang terpenting, setiap kunjungan Anda berkontribusi langsung pada upaya pelestarian: melalui Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI) dan tiket masuk. Tak hanya itu, partisipasi dalam program edukasi, atau sekadar kepatuhan pada aturan, seperti tidak membuang sampah sembarangan dan menjaga jarak dari satwa tak kalah pentingnya.

Tarsius makassar mengajarkan kita bahwa konservasi tidak harus melulu murung. Dengan pendekatan ilmiah, pengelolaan sampah yang ketat, pemanfaatan teknologi, dan sentuhan seni, primata sekecil kepalan tangan ini mampu bersinar. Menggoyang dunia riset, menghidupi ekowisata berkelanjutan, dan menginspirasi generasi muda dari berbagai penjuru dunia untuk peduli pada kelestarian alam.

Penulis: Tim Kerja Suaka Tarsius Makassar (Sanctuary Tarsius fuscus)

Tags :

Bagikan :