Tarsius Makassar: Sang Penunggu dalam Gelap

Tarsius Makassar (Tarsius fuscus), sang penunggu dalam gelap – Foto: Taufiq Ismail Al Pharepary

Ketika sebagian besar satwa mulai terlelap, sepasang mata raksasa justru terjaga di tengah bentang karst kawasan wisata Pattunuang, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Mata itu milik tarsius makassar, Tarsius fuscus, salah satu primata nokturnal paling unik di dunia. Memiliki tubuh mungil, kemampuan melompat yang luar biasa, dan penglihatan malam yang tajam. Tarsius telah lama menjadi simbol keanekaragaman hayati Sulawesi.

Namun, bagaimana perilaku satwa ini ketika hidup dalam lingkungan habitat buatan semi-alami? Habitat berupa kandang habituasi berukuran 24×18 meter dengan tinggi 6 meter di Suaka Tarsius Makassar. Sebuah penelitian berbasis rekaman CCTV di sekitar kotak pakan di kandang tersebut, memberikan gambaran yang menarik. Alih-alih hanya mengungkap aktivitas makan, penelitian tersebut justru membuka jendela baru tentang bagaimana tarsius beradaptasi terhadap ruang, pakan, dan lingkungan yang dikelola manusia.

Bukan Bermain, Melainkan Menunggu

Selama pengamatan terhadap 40 sesi rekaman CCTV dengan total durasi 9.882 detik, perilaku yang paling sering muncul ternyata bukan bermain atau berburu, melainkan istirahat (Resting). Aktivitas ini mencapai 43,9% dari seluruh aktivitas yang terekam. Urutan berikutnya adalah kewaspadaan (Vigilance) sebesar 14,82% dan makan (Ingestive) sebesar 13,31%.

Temuan ini berbeda dengan penelitian sebelumnya oleh M. Qiptiyah dan kolega yang menemukan bahwa perilaku bermain mendominasi aktivitas harian tarsius di kandang. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa perilaku satwa sangat dipengaruhi oleh konteks ruang yang diamati. CCTV dalam penelitian ini dipasang khusus di sekitar kotak pakan. Hal ini menunjukkan lebih banyak perilaku menunggu, mengamati, dan memanfaatkan sumber makanan dibandingkan aktivitas eksplorasi di seluruh kandang.

Fenomena ini sejalan dengan konsep Optimal Foraging Theory, yakni strategi satwa untuk memperoleh energi sebanyak mungkin dengan biaya energi sekecil mungkin. Tarsius adalah predator serangga yang mengandalkan teknik “duduk dan menunggu” (Sit-and-Wait Predator). Tarsius tampaknya memanfaatkan area pakan sebagai titik strategis untuk menghemat energi sambil tetap siap menangkap mangsa.

Mata Besar yang Selalu Waspada

Salah satu temuan paling menarik adalah tingginya proporsi perilaku kewaspadaan. Tarsius menghabiskan hampir 15% waktu pengamatan untuk memindai lingkungan sekitarnya. Kepala mereka ditegakkan, telinga mereka bergerak aktif, dan mata besar mereka terus memantau setiap suara atau gerakan.

Menurut Carsten Niemitz (1984), kewaspadaan merupakan bagian penting dari strategi bertahan hidup tarsius di alam liar. Meskipun berada dalam lingkungan suaka yang relatif aman, naluri antipredator tersebut ternyata tetap bertahan. Hal ini menunjukkan bahwa beberapa perilaku dasar satwa liar sulit dihilangkan, bahkan ketika ancaman nyata telah berkurang.

Dari perspektif konservasi, temuan ini penting. Kandang yang aman secara fisik belum tentu memberikan rasa aman secara perilaku. Oleh karena itu, desain kandang dan penempatan lokasi pakan perlu mempertimbangkan kebutuhan psikologis satwa agar tingkat stres dapat diminimalkan.

Kandang Tarsius Makassar di Suaka Tarsius Makassar, Kawasan Wisata Pattunuang, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung – Ist: Foto

 

Pemburu yang Tetap Setia pada Nalurinya

Meski pakan tersedia dalam kotak pakan, tarsius tidak langsung mengambil makanan begitu saja. Rekaman menunjukkan bahwa satwa ini masih mempertahankan pola berburu alaminya. Mereka mendekati mangsa secara perlahan, mengamati, lalu melakukan lompatan cepat untuk menangkapnya.

Perilaku tersebut mengonfirmasi bahwa tarsius makassar merupakan karnivora sejati yang bergantung pada mangsa hidup. Mangsa tarsius di antaranya: serangga (jangkrik, belalang, kumbang, dan sebagainya), burung kecil, serta reptil kecil. Penelitian oleh MacKinnon dan MacKinnon (1980), pada tarsius liar di Sulawesi juga menunjukkan bahwa keberhasilan berburu sangat bergantung pada kemampuan visual dan kecepatan lompatan.

Temuan ini memberi pesan penting bagi pengelolaan Suaka Tarsius Makassar: penyediaan pakan hidup, tidak hanya memenuhi kebutuhan nutrisi, tetapi juga membantu mempertahankan perilaku alaminya. Hal ini penting bagi kesejahteraan satwa.

Kehidupan Sosial yang Sunyi

Berbeda dengan beberapa primata lain yang hidup dalam kelompok besar, interaksi sosial tarsius di sekitar kotak pakan tergolong rendah. Perilaku berkelompok hanya tercatat 0,69%, sedangkan perilaku konflik atau agonistik hanya 0,20%.

Rendahnya konflik menunjukkan bahwa ketersediaan pakan dan kondisi kandang cukup mendukung kehidupan bersama. Namun, rendahnya interaksi sosial juga mengingatkan bahwa tarsius bukan primata yang sangat sosial seperti monyet atau kera besar. Mereka lebih sering mempertahankan jarak individu, kecuali pada konteks reproduksi, pengasuhan anak, atau aktivitas kelompok tertentu.

Dalam berbagai studi lapangan, termasuk penelitian Qiptiyah dkk. (2012), interaksi sosial dan bermain lebih sering terjadi di area vegetasi dan struktur kandang yang memungkinkan lokomosi aktif. Oleh karena itu, pengamatan yang hanya berfokus pada kotak pakan kemungkinan belum menggambarkan keseluruhan kehidupan sosial tarsius.

 

Pengamatan perilaku harian tarsius makassar dalam kandang Suaka Tarsius Makassar, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung: analisis rekaman CCTV pada area kotak pakan – Ist: Foto

 

Apa yang Dapat Kita Pelajari?

Penelitian CCTV ini menunjukkan bahwa kotak pakan bukan sekadar tempat makan. Bagi tarsius, lokasi tersebut juga menjadi ruang istirahat, titik pengamatan, dan pusat pengambilan keputusan perilaku. Dengan kata lain, satu titik kecil dalam kandang mampu mencerminkan strategi hidup satwa yang telah berevolusi selama jutaan tahun.

Lebih jauh, hasil penelitian ini memperlihatkan bagaimana teknologi sederhana seperti CCTV dapat membantu konservasionis memahami perilaku satwa tanpa mengganggu aktivitas alaminya. Di era ketika banyak spesies endemik menghadapi tekanan habitat dan perubahan lingkungan, pendekatan semacam ini menjadi alat penting untuk meningkatkan keberhasilan konservasi berbasis sains.

Bagi Suaka Tarsius Makassar, temuan ini bukan akhir penelitian, melainkan awal dari pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana tarsius hidup, beradaptasi, dan bertahan. Sebab, di balik mata besar yang memantulkan cahaya malam Sulawesi, tersimpan kisah evolusi, naluri, dan ketahanan yang masih terus menunggu untuk diungkap.

Penulis: Tim Kerja Suaka Tarsius Makassar (Sanctuary Tarsius fuscus)

 

Daftar Pustaka

IUCN. 2020. The IUCN Red List of Threatened Species: Tarsius fuscus.

MacKinnon, J., & MacKinnon, K. 1980. The Behavior of Wild Spectral Tarsiers. International Journal of Primatology.

Niemitz, C. 1984. Tarsiers. Dalam: The Encyclopedia of Mammals. Facts on File, New York.

Qiptiyah, M., Broto, B.W., & Setyawati, T. 2012. Perilaku Harian Tarsius Dalam Kandang di Patunuang, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, 1(2): 74–86.

Shagir, K.J., Supardi, Hamid, A., & Syamsuddin. 2026. Perilaku Harian Tarsius Makassar (Tarsius fuscus) dalam Kandang Suaka Tarsius Makassar, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung: Analisis Rekaman CCTV pada Area Kotak Pakan.

Shumaker, R.W. 2003. Primates in Question. Smithsonian Books.

Tags :

Bagikan :