Sembilan tahun memisahkan dua pertemuan, satu abad membungkam jejak seekor reptil. Hutan karst Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung ternyata masih menyimpan kehidupan yang belum selesai kita kenal
Pertemuan di Balik Daun Kering
Pagi itu, di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, udara masih lembap oleh embun yang enggan menguap. Kamaruddin, Petugas Manggala Agni taman nasional sedang menyapu daun-daun kering di Kawasan Wisata Bantimurung, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Gerakannya ritmis dan sunyi, namun alam tak pernah benar-benar sunyi.
Kamaruddin yang lebih akrab disapa Delon di sela-sela sapuannya melihat sesuatu bergerak. Seekor reptil kecil meringkuk sempurna di atas serasah. Sisiknya cokelat kering, hampir menyatu dengan serasah. Delon awalnya mengira itu anak soa-soa, Hydrosaurus microlophus, kadal air yang kerap ditemukan di kawasan wisata itu. Delon tak sendiri, ia bersama anggota Resor Bantimurung lainnya memutuskan untuk memotret dan memeriksa temuan itu. Seekor reptil kecil berwarna cokelat yang membantunya berkamuflase sempurna di lantai balkon yang dipenuhi serasah.
Bagi Delon pertemuan dengan sang reptil hanyalah hal biasa. Namun kenyataannya, ia baru saja menemukan sesuatu yang telah hilang dari ingatan ilmiah selama lebih dari satu abad.
Déjà Vu dari Sembilan Tahun Lalu
Cerita serupa pernah terjadi pada 2017 silam. Saat itu Syamsuddin, staf taman nasional sedang bertugas di hutan Karaenta, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Ia tak sengaja bertemu dengan reptil yang sama persis. Jack panggilan akrabnya, sempat kebingungan karena tidak ada catatan modern yang menyebutkan keberadaan makhluk itu di Sulawesi Selatan. Sembilan tahun kemudian, Delon mengulang sejarah yang nyaris terlupakan.
Hasil identifikasi oleh Kamajaya Shagir, Pengendali Ekosistem Hutan taman nasional, kemudian membuka tabir: satwa itu adalah Bronchocela celebensis. Di dunia internasional, ia dikenal dengan julukan yang menyesatkan sekaligus dramatis: Sulawesi Bloodsucker (pengisap darah sulawesi), sementara dalam bahasa Indonesia disebut bunglon surai sulawesi. Tapi, jangan dulu membayangkan taring dan darah.
Asal-usul Julukan yang Keliru, namun Indah
Tidak ada setetes darah pun di sini. Julukan bloodsucker lahir dari sebuah ilusi visual yang menakjubkan. Pada kondisi terancam, stres, atau saat musim kawin, individu jantan dari spesies ini mampu mengubah warna kepala dan lehernya menjadi merah menyala. Bukan merah samar, melainkan merah segar seolah baru berlumuran darah.
Fenomena ini bukan sihir. Ini adalah bentuk komunikasi biologis yang sangat rumit: display ancaman untuk mengintimidasi predator atau pesaing, sinyal kawin untuk menarik betina, dan respons fisiologis terhadap tekanan lingkungan.
Maka, “penghisap darah” sejatinya adalah sebuah kesalahpahaman yang indah, nama yang lahir dari rasa kagum yang dibungkus ketakutan.
Senyap Selama Satu Abad
Kisah spesies ini seperti naskah kuno yang hilang di perpustakaan waktu. Catatan ilmiah terakhir mengenai keberadaannya di Bantimurung berasal dari tahun 1915, dalam karya klasik The Indo-Australian Archipelago I karya N. de Rooij. Setelah itu? Sunyi.
Pada 2017, Jack menemukannya lagi di Karaenta. Lalu pada 2026, Delon mengonfirmasi bahwa spesies ini benar-benar masih hidup di Bantimurung. Rentang waktu antara penemuan ilmiah pertama dan penemuan kembali ini lebih dari satu abad. Bahkan, pertemuan Jack dan Delon sendiri terpisah sembilan tahun.
Itu bukan rentang yang panjang untuk pohon, tapi sangat panjang untuk reptil yang tubuhnya hanya sejengkal tangan. Ini menunjukkan betapa terbatasnya data lapangan kita, betapa gelapnya titik-titik dalam peta keanekaragaman hayati Sulawesi.

Ahli Kamuflase dengan Bahasa Warna
Bronchocela celebensis adalah maestro penyamaran. Tubuhnya ramping, ekornya panjang menjuntai, jambul kecil di kepalanya, dan kulitnya dapat berubah. Kulit yang bisa berganti dari hijau daun segar menjadi cokelat kering serasah hanya dalam hitungan detik, menyesuaikan lingkungan sekitar.
Namun, perubahan warna ini bukan sekadar alat sembunyi. Ini adalah bahasa. Hijau: “Aku bagian dari ranting ini.” Cokelat: “Aku tanah, lewatlah.” Merah terang: “Jangan mendekat. Atau justru, dekati aku.”
Dalam dunia herpetologi, kemampuan ini disebut sebagai metachrosis, sebuah bentuk kecerdasan visual yang jarang ditemukan dengan tingkat presisi setinggi ini.
Mangsa Kecil, Peran Besar
Dalam jaring ekosistem, tidak ada yang hidup sendiri. Bronchocela celebensis adalah predator: serangga kecil, belalang, kecoa hutan, dan jangkrik. Ia menjaga populasi serangga tetap seimbang.
Namun, ia juga menjadi mangsa. Salah satu musuh alaminya adalah monyet dare (Macaca maura), monyet endemik Sulawesi Selatan yang lincah dan cerdas. Relasi ini mengingatkan kita pada satu hukum ekologi yang tak terbantahkan: spesies kecil sering menyangga kestabilan yang besar.
Langka, Rentan, dan Hampir Terlupakan
Berdasarkan studi taksonomi terbaru yang terbit di Zootaxa (Maret 2024), tim ilmuwan yang dipimpin A. A. Thasun Amarasinghe dan Awal Riyanto, Peneliti BRIN, mengungkapkan fakta mengejutkan. Mengukir fakta bahwa Bronchocela celebensis adalah salah satu spesies paling langka dalam genusnya dan endemik di Sulawesi.
Selama ini, spesies ini hanya diketahui dari kurang dari 20 spesimen museum yang dikoleksi dari Sulawesi Utara. Berdasarkan 46 spesimen yang dianalisis, tim tersebut mengusulkan peningkatan status konservasi Bronchocela celebensis menjadi Rentan (Vulnerable/VU) dalam Daftar Merah IUCN. Ini adalah peringatan: tanpa upaya serius, reptil ini bisa berpindah dari kabar langka menjadi kabar duka.
Penanda Ekosistem yang Masih Bernapas
Apa arti penemuan ini bagi kita yang bukan ilmuwan?
Temuan ini memperluas peta persebaran spesies tersebut di Sulawesi. Hutan karst Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung masih cukup sehat untuk mendukung populasi satwa liar yang sangat spesifik.
Spesies sekhusus Bronchocela celebensis tidak bisa hidup di habitat yang terganggu. Ia butuh kanopi yang rimbun, serasah yang utuh, dan rantai makanan yang masih berfungsi. Ia adalah bioindikator. Keberadaannya adalah tanda bahwa ekosistem ini masih memiliki kompleksitas, masih bernapas, masih layak disebut sebagai rumah.
Refleksi: Siapa Penghuni Sebenarnya?
Bagi Delon dan Jack, penemuan ini bukan sekadar entri dalam jurnal ilmiah. Meskipun mereka adalah petugas konservasi, alam selalu punya cara untuk memberi kejutan.
Kejutan itu bukan hanya tentang menemukan spesies langka. Kejutan itu adalah kesadaran bahwa kita, dengan segala megahnya peradaban, hanyalah tamu. Sementara hutan karst Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung telah menjadi rumah bagi makhluk-makhluk kecil. Makhluk yang jauh lebih tua, jauh lebih sabar, dan jauh lebih paham bagaimana cara bertahan di bumi ini.
Dan mungkin, jika kita masih punya cukup akal untuk berhenti sejenak, membuka mata, kita akan menemukan bahwa keajaiban tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya menunggu, bersembunyi di balik hutan karst.
Penulis: Kamajaya Shagir & Nur Rahmah – PEH Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung
Daftar Pustaka
Amarasinghe, A. A. T., Campbell, P. D., Riyanto, A., Hallermann, J., Hamidy, A., Andayani, N., Abinawanto, A., & Supriatna, J. (2024). Taxonomy, distribution, and conservation status of a rare arboreal lizard, Bronchocela celebensis Gray, 1845 (Reptilia: Agamidae) endemic to Sulawesi, Indonesia. Zootaxa, 5424(2), 189–202.
Shagir, K. (2017). Temuan Sulawesi Bloodsuckers di TN Bantimurung Bulusaraung. Direktorat Jenderal KSDAE. Diakses dari https://ksdae.kehutanan.go.id/publikasi/berita/temuan-sulawesi-bloodsuckers-di-tn-bantimurung-bulusaraung-f4i8wbIi/
Shagir, K., & Rahmah, N. (2026). Pertemuan Kembali dengan Sulawesi Bloodsuckers. Balai TN Bantimurung Bulusaraung. Diakses dari https://ksdae.kehutanan.go.id/publikasi/artikel/pertemuan-kembali-dengan-sulawesi-bloodsuckers-7VB27khH/
de Rooij, N. (1915). The Indo-Australian Archipelago I.
Riyanto, A., et al. (2024). Data for: Taxonomy, distribution, and conservation status of a rare arboreal lizard, Bronchocela celebensis Gray, 1845 (Reptilia: Agamidae) endemic to Sulawesi, Indonesia. Zenodo. Diakses dari https://zenodo.org/records/10834744
Zug, G. R., Vitt, L. J., & Caldwell, J. P. (2001). Herpetology: An Introductory Biology of Amphibians and Reptiles. Academic Press.