Tarsius Makassar: Menyimak Bisikan Malam Sang Penjaga Karst

Senja jatuh perlahan di lembah karst kawasan Pattunuang, Taman Nasional (TN) Bantimurung Bulusaraung, Maros, Sulawesi Selatan. Warna keemasan memudar menjadi biru keunguan, diselingi bayangan tebing bukit batu kapur yang menjulang seperti katedral purba. Di bawah rimbunan beragam vegetasi seperti pohon ara (Ficus spp.), bambu (Bambusa sp.) dan pohon aren (Arenga pinnata), dunia perlahan berbalik, dari gemericik siang menuju bisikan malam.

Kami, Tim Kerja Suaka Tarsius Makassar (Sanctuary Tarsius fuscus), berdiri di batas dua dunia itu. Bukan untuk menguasai, melainkan untuk menyimak. Dalam monitoring tarsius makassar (Tarsius fuscus) ini, kami tidak sendirian. Ada tujuh mahasiswa magang dari Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin (UNHAS) yang ikut serta. Mereka menunjukkan semangat, antusiasme, dan fokus dengan rasa ingin tahu yang besar, hasrat untuk belajar.

Pukul 04.30 WITA. Fajar masih jauh. Kegelapan masih menyelimuti segalanya.

Kami membagi diri menjadi tiga regu kecil, bukan untuk mengejar, melainkan untuk merangkul hutan dari semua sisinya tanpa mengusik sedikit pun penghuni yang sedang beristirahat.

Regu 1, di bawah pimpinan Kamajaya Shagir, berjalan di tepi aliran sungai, persis di mana tebing-tebing karst Garoppa’a membuka celah-celah misteriusnya.

Regu 2, dipandu Supardi, menyusup ke sektor tengah, di sekitar kawasan Biseang La’boro. Masyarakat mewariskan nama itu turun-temurun, yang berarti kapal yang tenggelam.

Regu 3, dikomandoi Aswadi Hamid, memburu malam di dekat Musholla Camping Ground. Di sanalah, di antara celah-celah karst yang sempit, para tarsius kerap menyembunyikan diri dari dunia yang terjaga.

Syamsuddin, sang penunjuk jalan dan lokasi sarang. Dengan gerakan lincah, nyaris tanpa suara, ia memandu kami dari satu titik pengamatan ke titik berikutnya, kadang hanya dengan anggukan, kadang dengan lambaian tangan yang hanya kami pahami.

Metode kami adalah concentration count. Kami tidak mengejar. Kami memusatkan perhatian di titik-titik yang diduga kuat sebagai sarang atau jalur jelajah. Pengamatan dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung berdasarkan suara (vokalisasi).

Saat subuh adalah waktu sakral ketika tarsius makassar (Tarsius fuscus) hendak pulang, mengakhiri petualangan malamnya, dan ketika suara mereka paling jernih.

Site Sungai Pattunuang

Hening. Kemudian, suara pertama muncul. Bukan nyanyian, bukan raungan. Lebih seperti cicitan bernada sangat tinggi yang memantul dari dinding karst. Itulah vokalisasi tarsius makassar, kode moral mereka, penanda teritori, sekaligus panggilan pulang untuk keluarga.

Regu 1 mencatat, Kelompok P20/Garoppa’a. Satu ekor jantan dewasa, dua betina dewasa, satu anak. Mereka bersarang di lubang tebing karst, tepat 2 meter di atas tanah, 166 mdpl.

Regu 2 memberikan informasi, P16/Biseang La’boro terdeteksi. Tiga jantan dewasa, tiga betina dewasa, satu anak. Sarang mereka berada di ketinggian 20 meter di atas tanah, 157 mdpl.

Regu 3 melaporkan, Kelompok P15/Musholla. Satu jantan dewasa, dua betina dewasa, satu anak. Mereka bersarang di lubang tebing karst, tepat 25 meter di atas tanah, 142 mdpl. 

Site Suaka Tarsius Makassar (Sanctuary Tarsius fuscus)

Di hari-hari berikutnya, kaki kami menyusuri Kanopi Trail di Suaka Tarsius Makassar.

Regu 1 menorehkan catatan, Kelompok ST5. Dua jantan, dua betina. Mereka memilih sarang di lubang tebing karst, 5 meter di atas tanah, pada ketinggian 173 mdpl.

Regu 2 menyampaikan temuan, Kelompok ST2/P8. Dua jantan, dua betina, dua anak. Sarang mereka tersembunyi di lubang tebing karst, tepat 15 meter di atas tanah, di ketinggian 129 mdpl.

Regu 3 mengonfirmasi, Kelompok ST3. Dua jantan, dua betina, satu anak. Sarang mereka berada di ketinggian 15 meter di atas tanah, pada ketinggian 139 mdpl.

Catatan demi catatan, suara demi suara, terus mengalir. Dari puncak tebing tertinggi hingga rumpun bambu. Perlahan, namun pasti.

Ini bukan sekadar angka-angka yang tercoret di atas kertas. Ini adalah detak jantung populasi yang masih berdetak, di antara kegelapan dan fajar, di antara harapan dan ancaman, di antara langit yang membentang luas dan tanah yang setiap malam mereka pijak dengan kaki-kaki mungilnya.

Tim menyimak vokalisasi dan pergerakan tarsius makassar di celah-celah tebing karst.
Ketika Angka Berbicara: Laporan dari Lapangan

Subuh mulai merambat naik. Kami berkumpul kembali, mengolah data-data pengamatan. Kami membacakan hasilnya dengan suara pelan, seolah takut rahasia hutan ini terbawa angin.

Di Suaka Tarsius Makassar, kami mencatat 8 kelompok aktif. Total 37 individu, meningkat 131% sejak 2019. Sebuah kabar baik. Namun, rasionya mengganjal: jantan dewasa 14, betina dewasa 14, anak hanya 9. Sex ratio 1:1, tapi jumlah anak sedikit. Piramida umur terbalik. Populasi yang menua, yang kelahiran belum bisa mengejar kematian.

Tim mendesah. Di balik peningkatan itu, ada alarm pelan yang berbunyi.

Di Sungai Pattunuang, cakupannya lebih luas. 31 kelompok, total 111 individu. Jantan dewasa 41%, betina dewasa 44%, anak hanya 15%. Sex ratio 1:1,16. Kepadatan populasi 128 individu/km², turun 2% dari tahun lalu.

Kenapa menurun? Kami menduga kuat ada tekanan dari predator alami: ular sanca kembang (Python reticulatus), celepuk Sulawesi (Otus manadensis), dan elang ular Sulawesi (Spilornis rufipectus). Tapi kami juga tidak bisa menutup mata pada sebuah kenyataan lain yang lebih sunyi, lebih pilu: bayi tarsius.

Bayi tarsius terlahir lincah. Mata mereka sudah terbuka sejak hari pertama. Dalam hitungan jam, mereka sudah bisa memegangi rambut induknya. Dalam beberapa minggu, mereka mulai belajar melompat. Tapi di balik kelincahan itu, tersimpan kerapuhan yang tak terlihat.

Mereka pandai melompat, tapi tidak jarang jatuh. Dari dahan ke dahan. Dari celah karst ke dasar lembah. Satu lengah, satu kaki yang belum cukup kuat mencengkeram, dan tubuh sekecil kepalan tangan itu bisa terlempar ke tanah. Tidak ada induk yang cukup cepat menangkap. Tidak ada ranting yang cukup ramah mengampuni.

Di situlah kematian sering datang. Diam-diam. Tanpa suara. Tanpa jejak. Jadi ya, predator memang mengintai dari luar. Tapi kadang, bahaya terbesar justru berasal dari tubuh mungil itu sendiri, yang masih belajar menjadi tangguh di hutan yang tak pernah benar-benar ramah.

Tim berada di Kawasan Pattunuang, habitat penting bagi tarsius makassar di TN Bantimurung Bulusaraung
Fajar Menyingsing, Panggilan Pulang Terdengar

Kami menemukan sesuatu di beberapa lokasi bahwa tarsius makassar bersarang di lubang atau celah pada tebing karst, pada ketinggian 2–20 meter dari tanah. Ini benteng alami mereka. Selain itu, rumpun bambu (Bambusa sp.), ara (Ficus spp.), aren (Arenga Pinnata), pandan hutan, rimbunan tanaman merambat, dan sisa-sisa pohon tumbang. Di sinilah keluarga kecil tarsius juga sering beristirahat, terlindung dari panas dan pemangsa.

Pukul 06.15 WITA. Suara tarsius berubah irama. Lebih pendek, lebih cepat. Itu adalah panggilan duet (Duet Call), panggilan untuk berkumpul, lalu masuk sarang. Satu per satu, bayangan kecil melompat dari dahan ke dahan, lalu lenyap ke dalam gelap tebing karst.

Misi kami usai. Namun di benak kami, pekerjaan baru saja dimulai. Dalam laporan kami usulkan:

  1. Monitoring rutin, untuk melihat tren kelahiran dan kematian lebih akurat.
  2. Studi perilaku dan jelajah jangka panjang, kami butuh tahu seberapa jauh mereka menjelajah dan perilakunya di alam.
  3. Penguatan penyuluhan untuk masyarakat yang selama ini hidup berdampingan dengan tarsius tanpa benar-benar mengenalnya. Perlindungan dan pengamanan untuk menekan perburuan liar dan perambahan. Dan pemberdayaan masyarakat sekitar, karena hutan akan aman jika yang ikut serta menjaganya adalah mereka yang menggantungkan hidup di sekitarnya.
Bukan Sekadar Menjaga Tarsius, Tapi Menjaga Malam

Kami beranjak pulang saat matahari mulai menyengat. Kabut tipis masih bergelayut di lembah. Tujuh mahasiswa UNHAS tampak lelah tapi puas. Mereka baru saja belajar bahwa konservasi tidak dilakukan di balik meja, melainkan di dalam kegelapan, di bawah gigitan nyamuk, dan dengan kesabaran luar biasa.

Kami menoleh sekali lagi ke arah tebing. Tidak ada suara. Tidak ada gerakan. Tapi kami tahu, di balik celah-celah batu kapur itu, detak jantung kecil masih berdenyut. 

Dan selama denyut itu masih ada, kami akan terus kembali.

Karena menjaga tarsius makassar berarti menjaga keseimbangan karst, menjaga sungai, menjaga serangga malam, dan pada akhirnya, menjaga diri kita sendiri.

“Di balik angka, ada kehidupan. Di balik senja, ada harapan.”

 

Penulis: Tim Kerja Suaka Tarsius Makassar (Sanctuary Tarsius fuscus)
Tags :

Bagikan :