Tarsius Makassar: Lahirnya Generasi Kedua

Di antara rimbun bambu yang bergoyang pelan oleh angin malam, kehidupan kembali berdenyut di dalam kandang semi-alami Suaka Tarsius Makassar (Sanctuary Tarsius fuscus), kawasan Pattunuang, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Saat sebagian besar dunia terlelap, seekor bayi kecil membuka matanya untuk pertama kali, membawa kisah baru dalam perjalanan panjang konservasi primata nokturnal paling misterius di Sulawesi.

Pada 7 Februari 2026, seekor bayi Tarsius Makassar (Tarsius fuscus) kembali lahir di dalam kandang semi-alami Suaka Tarsius Makassar. Ia adalah individu ke-24 yang pernah tercatat hidup di kandang sejak 2011, sekaligus kelahiran keenam yang berhasil diraih dalam program konservasi ex situ ini.

Darah Muda dari Garis Keturunan yang Tangguh

Bayi mungil ini lahir dari induk betina bernama TARI, seekor tarsius generasi kedua hasil habituasi. TARI sendiri adalah keturunan dari induk TARA, yang pada Desember 2025 lalu melahirkan bayi pertama di kandang yang sama, seekor individu bernama TERA. Kini, TARI mengikuti jejak ibunya. Di sisi lain, pejantan dewasa TARU tetap menjadi pengawal setia kelompok kecil ini.

Sejak Desember 2024, ketiga tarsius dewasa ini menjalani proses habituasi di kandang semi-alami berukuran 24 × 18 meter dengan tinggi 6 meter. Kandang itu dirancang menyerupai habitat alaminya: batang bambu menjulur, cabang-cabang kering membentuk jalan pintas, dan rumpun vegetasi hidup menyediakan tempat bersembunyi yang aman.

Di sanalah, pada malam Sabtu yang sunyi, TARI melahirkan. Bayi itu hadir tanpa suara gemuruh, tanpa perayaan, hanya ditemani kegelapan yang telah menjadi sahabat leluhurnya selama jutaan tahun.

Suaka Tarsius Makassar (Sanctuary Tarsius fuscus), Kawasan Pattunuang, TN Bantimurung Bulusaraung.
TARO: Si Kecil Bermata Terbuka

Bayi yang kemudian diberi nama TARO itu lahir dengan ciri khas yang menakjubkan. Seperti semua bayi tarsius, ia tergolong precocial: tubuhnya sudah berbulu lengkap, matanya terbuka lebar, sebuah adaptasi luar biasa untuk primata nokturnal yang sejak detik pertama harus waspada terhadap gelap. Dalam satu hingga dua hari, ia sudah mampu memanjat. Ia adalah bagian dari dunia yang tidak menunggu, melainkan langsung bergerak.

Pengamatan awal menunjukkan induk TARI memperlihatkan perilaku maternal yang sempurna. Ia menyusui bayinya dengan rutin, membersihkan tubuh si kecil melalui grooming, dan membawa TARO dengan cara menggigit lembut di tengkuk atau tubuh, sama persis seperti yang dilakukan induk tarsius di alam liar.  Bayi itu merespons dengan gerakan aktif, tubuhnya stabil, dan tengkuknya yang tergenggam erat namun tak pernah terluka.

Perilaku membawa bayi dengan mulut ini bukan sekadar kebiasaan. Bagi tarsius, ini adalah strategi bertahan hidup: memindahkan anak dari bahaya, menenangkannya saat gelisah, atau sekadar berpindah pohon dalam satu lompatan sejauh beberapa meter. Di sela waktu berburu serangga, ia menyusui, merawat, dan menjaga, memastikan setiap detik awal kehidupan anaknya berlangsung dalam ritme alami yang telah diwariskan lintas generasi.

Dari 23 Menjadi 24: Sejarah Panjang dalam Kandang

Kelahiran TARO tidak terjadi dalam ruang hampa. Sejak 2011, Suaka Tarsius Makassar telah mencatat 24 individu tarsius yang pernah hidup di dalam kandang penelitian dan habituasi. Dari jumlah itu, saat ini lima individu masih mendiami kandang semi-alami tersebut, termasuk TARU, TARA, TARI, TERA, dan kini TARO.

Kelahiran keenam di dalam kandang ini, yang kemudian dikenal sebagai bagian dari generasi kedua hasil habituasi, bukan sekadar individu baru. Ia adalah tanda bahwa keseimbangan telah tercapai bahwa lingkungan buatan ini cukup tenang, cukup kaya, dan cukup “liar” untuk memungkinkan kehidupan berkembang sebagaimana mestinya.

Ia adalah laboratorium hidup yang berhasil meniru denyut nadi hutan karst: siklus makan, tidur, kawin, dan melahirkan berjalan tanpa intervensi berlebihan. Setiap malam, tarsius-tarsius ini diberi 25 hingga 50 ekor serangga hidup per individu, yang mereka buru dengan lompatan eksplosif di antara batang bambu.

Sementara itu, di luar kandang, di kawasan seluas 6,17 hektare yang menjadi zona konservasi in situ, populasi tarsius makassar tercatat sebanyak 36 individu yang tergabung dalam 8 kelompok sosial. Angka ini merupakan hasil dari kerja panjang pelepasliaran, di mana individu-individu yang sebelumnya hidup di kandang dilepaskan secara bertahap ke habitat alami mereka.

Kandang Tarsius Makassar, Kawasan Pattunuang, TN Bantimurung Bulusaraung
Primata Kecil dari Wallacea yang Terus Berjuang

Tarsius makassar adalah salah satu keajaiban evolusi di kawasan biogeografi Wallacea. Dengan panjang tubuh tak lebih dari 15 sentimeter dan ekor yang hampir dua kali lipatnya, ia beradaptasi secara sempurna dengan kehidupan malam. Matanya yang besar, lebih besar dari otaknya sendiri, tak dapat digerakkan di rongga kepala. Sebagai gantinya, lehernya dapat memutar hampir 180 derajat, sebuah kemampuan yang membuatnya mampu mengintai mangsa atau predator dari balik batang pohon tanpa menggerakkan tubuh.

Setiap kelahiran di kandang semi-alami adalah pengingat bahwa perlindungan habitat alaminya menjadi kunci utama keberlanjutan populasi tarsius di alam liar. Kerusakan habitat, fragmentasi, perburuan liar, dan tekanan manusia masih mengancam.

Di malam  hari, ketika suara jangrik memenuhi udara dan bayangan bergerak di antara batang-batang bambu, bayi itu akan tumbuh, diam-diam, cepat, dan pasti. Matanya yang besar akan belajar membaca kegelapan, telinganya akan menangkap getaran paling halus, dan tubuh kecilnya akan melesat di antara cabang seperti bayangan yang hidup.

Di malam sunyi ketika mata-mata besar itu kembali berburu, sebuah generasi baru tarsius memulai hidupnya, kecil, senyap, namun bermakna besar bagi masa depan hutan Sulawesi. Di tempat ini, di antara batu kapur purba dan hutan yang terus berjuang, satu kelahiran kembali mengingatkan bahwa harapan tidak selalu datang dalam bentuk besar dan gemilang. Kadang, ia hadir dalam wujud paling kecil: seekor bayi tarsius yang memulai hidupnya di tengah sunyi, namun membawa masa depan seluruh spesies bersamanya.

 

Penulis: Tim Kerja Suaka Tarsius Makassar (Sanctuary Tarsius fuscus)

 

Baca juga: https://ksdae.kehutanan.go.id/publikasi/berita/kelahiran-keenam-tarsius-makassar-di-kandang-suaka-tarsius-makassar-c7fAozek/

Tags :

Bagikan :