Mahasiswa UNHAS Belajar Konservasi Tarsius Makassar dan Monyet Dare di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung

Maros, 2 April 2026 – Tim Kerja Suaka Tarsius Makassar (Sanctuary Tarsius fuscus), Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, telah melaksanakan pendampingan kegiatan magang bagi tujuh orang mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin (UNHAS) dalam skema Mata Kuliah Penguatan Kompetensi (MKPK). Kegiatan yang berlangsung sejak 30 Maret hingga 2 April 2026 ini difokuskan pada pengelolaan keanekaragaman hayati di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, khususnya terkait satwa endemik Tarsius Makassar (Tarsius fuscus) dan Monyet Dare (Macaca maura).

Pendampingan yang dilaksanakan di Suaka Tarsius Makassar, Kawasan Pattunuang dan di Kawasan Karaenta ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan magang yang telah mendapat izin resmi melalui Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI). Para mahasiswa didampingi langsung oleh Tim Kerja Suaka Tarsius Makassar.

Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) yang bertugas di Suaka Tarsius Makassar, mengemukakan bahwa program magang ini merupakan bentuk implementasi pembelajaran berbasis lapangan yang bertujuan meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam bidang konservasi satwa liar. Kegiatan ini meliputi observasi perilaku, identifikasi habitat, serta keterlibatan dalam kegiatan pengelolaan dan perlindungan spesies endemik secara berkelanjutan.

“Kegiatan magang ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu secara langsung di lapangan. Mulai dari pengamatan perilaku nokturnal, pengenalan habitat, hingga upaya konservasi, seluruh proses menjadi laboratorium hidup yang memperkaya wawasan dan keterampilan mahasiswa di bidang ekologi dan konservasi satwa liar, sekaligus penyadartahuan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga kelestarian biodiversitas,” ujarnya.

Pendampingan Mahasiswa Unhas di Kandang Tarsius

Selama empat hari pelaksanaan, para peserta magang dibekali dengan berbagai materi teoritis dan praktik lapangan. Pada hari pertama, Senin (30/03/2026), kegiatan diawali dengan pemaparan dan diskusi mengenai pengelolaan Suaka Tarsius Makassar, dilanjutkan dengan praktik pengelolaan Kandang Tarsius Makassar. Hari kedua, Selasa (31/03/2026), materi difokuskan pada konservasi Monyet Dare melalui pemaparan, diskusi dan praktik monitoring Monyet Dare di Kawasan Karaenta.

Memasuki hari ketiga, Rabu (01/04/2026), dan hari keempat, Kamis (02/04/2026), kegiatan berfokus pada konservasi Tarsius Makassar. Para mahasiswa tidak hanya mendapatkan pemaparan dan diskusi mendalam mengenai spesies primata nokturnal ini, tetapi juga berkesempatan melakukan dan praktik monitoring Tarsius Makassar di Suaka Tarsius Makassar dan di Sungai Pattunuang, Kawasan Pattunuang, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.

Monitoring Tarsius Makassar di Suaka Tarsius Makassar dan di Sungai Pattunuang, Kawasan Pattunuang

Kegiatan magang ini melibatkan tujuh mahasiswa Program Studi S1 Konservasi Hutan. Mereka didampingi oleh tim pendamping dari Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung yang senantiasa memantau dan memfasilitasi kelancaran kegiatan, mulai dari aspek teknis konservasi hingga prosedur keamanan di lapangan.

Salah seorang mahasiswa tersebut mengaku mendapatkan banyak ilmu baru. “Selama empat hari, kami mempelajari banyak hal tentang perilaku dan pakan Tarsius Makassar serta Monyet Dare yang tidak kami dapatkan di ruang kuliah,” ujarnya. Ia juga mengapresiasi pelayanan tim pendamping. “Kami sangat berterima kasih atas suasana hangat yang diberikan, sehingga kami mudah menerima informasi baru.” Mereka berharap pihak Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung dapat lebih memperhatikan pemeliharaan fasilitas di Suaka Tarsius Makassar. “Semoga Suaka Tarsius Makassar semakin berkembang ke depannya,” pesannya.

Sementara itu, Mahasiswa yang mewakili tim magang juga menyampaikan rasa terima kasih. “Kami sangat-sangat berterima kasih atas ilmu dan sambutan hangat selama empat hari,” katanya. Ia memberikan sejumlah saran perbaikan. “Kami usulkan agar di display room ditambah gambar Tarsius Makassar, disediakan papan interpretasi, dan fasilitas lainnya lebih diperbaiki.” Selain itu, ia menambahkan, “Kami juga menyarankan lebih mengembangkan media sosial untuk mengabadikan objek Tarsius Makassar, agar orang luar bisa mendapatkan informasi lebih jelas.” Di akhir, mahasiswa tersebut kembali mengucapkan terima kasih atas dedikasi Tim Kerja Suaka Tarsius Makassar.

Menurut para PEH di Suaka Tarsius Makassar, kegiatan ini memiliki sejumlah manfaat. “Mahasiswa mendapatkan pengalaman praktis menerapkan teori di lapangan, sehingga lebih memahami konservasi satwa liar dan habitatnya,” ujarnya. Ia menambahkan, mahasiswa juga mengembangkan keterampilan dalam memantau Tarsius Makassar, Monyet Dare, dan satwa liar lainnya di Kawasan Pattunuang dan Kawasan Karaenta.

Lebih lanjut, Tim Pendamping Suaka Tarsius Makassar menjelaskan bahwa para mahasiswa turut berkontribusi langsung dalam upaya konservasi kedua spesies tersebut. “Mereka bisa merasa membuat perbedaan,”. Selain itu, kesadaran mahasiswa tentang pentingnya konservasi meningkat, sehingga mereka diharapkan menjadi agen perubahan di masyarakat. Mereka menegaskan, “Pendampingan ini menjadi pengalaman sangat berharga bagi mahasiswa sekaligus bagi kelangsungan hidup Tarsius Makassar dan Monyet Dare.”

Para PEH Suaka Tarsius Makassar, menekankan pentingnya kegiatan ini sebagai wadah pembelajaran nyata bagi mahasiswa dalam memahami pengelolaan kawasan konservasi. Selain memberikan pengalaman langsung, kegiatan ini juga diharapkan dapat menghasilkan laporan tertulis dan dokumentasi yang bermanfaat bagi pengelolaan kawasan ke depannya.

Rangkaian magang ini akan berlanjut hingga 3 Juli 2026, dengan penjadwalan kegiatan di berbagai lokasi seperti Sanctuary Kupu-kupu, Tanaman Endemik dan Alien Spesies, kawasan wisata, pemberdayaan masyarakat, hingga patroli pengamanan hutan di wilayah Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Minasate’ne dan SPTN Wilayah II Cenrana.

 

-Tim Kerja Suaka Tarsius Makassar-

Tags :

Bagikan :