Tarsius Makassar: Satu Kelahiran, Seribu Harapan

Di balik rimbun bambu di dalam kandang Suaka Tarsius Makassar (Sanctuary Tarsius fuscus), Kawasan Pattunuang, Taman Nasional (TN) Bantimurung Bulusaraung, kehidupan kecil berdenyut pelan di bawah naungan malam. Mata besar yang memantulkan cahaya, telinga tipis yang selalu siaga, serta jari-jari panjang yang mencengkeram batang bambu menjadi saksi lahirnya harapan bagi konservasi tarsius makassar (Tarsius fuscus), primata nokturnal endemik Sulawesi Selatan.

Primata Kecil dari Wallacea

Tarsius makassar merupakan salah satu keajaiban evolusi di kawasan biogeografi Wallacea. Dengan tubuh tak lebih dari 15 sentimeter dan ekor yang hampir dua kali panjang tubuhnya, primata ini beradaptasi sempurna dengan kehidupan malam. Mata besar yang tak dapat digerakkan di rongga kepala digantikan dengan kemampuan memutar leher hingga hampir 180 derajat—strategi bertahan hidup ditengah ancaman predator dan gelapnya hutan karst.

Sebagai pemburu serangga sejati, tarsius memanfaatkan keheningan malam untuk memburu belalang, jangkrik, laba-laba, dan serangga lainnya. Dalam satu malam, seekor tarsius dapat mengonsumsi sekitar 25–50 serangga, menjadikannya predator kecil yang berperan penting dalam keseimbangan ekosistem hutan.

Suaka Tarsius Makassar (Sanctuary Tarsius fuscus), Kawasan Pattunuang, TN Bantimurung Bulusaraung.

Suaka Tarsius Makassar: Laboratorium Hidup di Karst

Sejak Desember 2024, tiga individu tarsius—jantan dewasa TARU, betina dewasa TARA, dan anak betina TARI—menjalani kehidupan di kandang habituasi Suaka Tarsius Makassar. Kandang semi-alami ini dirancang menyerupai habitat aslinya, dengan ukuran 24 × 18 meter dan tinggi 6 meter, dipenuhi bambu, cabang pohon, serta ruang vertikal untuk melompat dan bersembunyi.

Selain sebagai pusat konservasi dan ekowisata tarsius makassar di TN Bantimurung Bulusaraung, suaka ini berfungsi sebagai laboratorium hidup. Di sinilah peneliti mempelajari perilaku sosial, pola makan, hingga dinamika reproduksi primata malam yang terkenal sensitif terhadap perubahan lingkungan.

Bayi dari Kegelapan

Pada 1 Desember 2025, sebuah peristiwa penting terjadi. Betina dewasa TARA melahirkan seekor bayi tarsius di dalam kandang habituasi. Bayi yang diberi nama TERA ini tercatat sebagai individu ke-23 (T23) yang pernah hidup di kandang-kandang Suaka Tarsius Makassar. Jenis kelaminnya belum diketahui, namun kehadirannya langsung meningkatkan jumlah tarsius di dalam kandang menjadi empat individu.Bayi tersebut lahir dengan ciri khas mencolok: bulu kepala coklat abu-abu gelap, tubuh coklat krem terang, dan ekor hitam pekat. Pengamatan menunjukkan induknya kerap menggigit ringan bayinya—perilaku alami untuk memindahkan atau menenangkan—serta rutin menyusui dan melakukan grooming (membersihkan tubuh). Hanya dalam waktu satu minggu, bayi ini sudah mampu hinggap sendiri di batang bambu, meski tetap berada di bawah pengawasan induknya.

Kandang Tarsius Makassar, Kawasan Pattunuang, TN Bantimurung Bulusaraung.

Jejak Panjang Penelitian dan Konservasi

Kelahiran ini merupakan bagian dari sejarah panjang penelitian tarsius di Pattunuang. Sejak 2012, Balai Penelitian Kehutanan Makassar membangun kandang penelitian tarsius di kawasan ini. Hingga kini, telah tercatat lima peristiwa kelahiran tarsius di dalam kandang, sebuah pencapaian penting mengingat tarsius dikenal sulit berkembang biak di luar habitat alaminya.

Keberhasilan ini menegaskan bahwa konservasi ex situ—melalui kandang penelitian dan habituasi—dapat menjadi strategi efektif bila dirancang berbasis sains dan kesejahteraan satwa.

Populasi yang Bangkit

Di luar kandang atau konservasi in situ, Suaka Tarsius Makassar seluas 6,17 hektare kini menjadi rumah bagi 8 kelompok tarsius dengan total 36 individu yang terpantau. Data monitoring menunjukkan tren menggembirakan: kenaikan populasi rata-rata 23 persen pertahun, atau peningkatan sebesar 125 persen dibandingkan data dasar.

Tingginya pertumbuhan ini tidak lepas dari strategi pelepasliaran. Beberapa kelompok di alam berasal dari individu-individu yang sebelumnya hidup di kandang penelitian dan kandang habituasi, menjadikan suaka sebagai jembatan antara perlindungan intensif dan kebebasan di habitat alami

Harapan di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.

Kelahiran bayi tarsius di kandang habituasi Pattunuang menjadi simbol harapan bagi konservasi tarsius makassar di TN Bantimurung Bulusaraung. Di tengah tekanan fragmentasi habitat, pertambangan, dan aktivitas manusia, kisah kecil dibalik rimbun bambu ini menunjukkan bahwa upaya konservasi jangka panjang yang konsisten dapat membuahkan hasil nyata.

Di malam-malam sunyi Pattunuang, ketika suara serangga menjadi latar dan mata-mata besar itu kembali berburu, sebuah generasi baru tarsius memulai hidupnya. Kecil, senyap, namun bermakna besar bagi masa depan hutan malam Sulawesi.

Penulis: Tim Kerja Suaka Tarsius Makassar (Sanctuary Tarsius fuscus)

Baca juga: https://ksdae.kehutanan.go.id/publikasi/berita/kelahiran-tarsius-makassar-di-kandang-suaka-tarsius-makassar-qYJ5BZhD/

Tags :

Bagikan :