Boleh jadi, jika kawanan monyet dan fauna lainnya di hutan Karaenta bisa ngomong, barangkali dia akan berkata seperti judul artikel ini. “Jangan dikau kotori rumahku”, dengan nada sedikit amarah. Betapa tidak, hutan yang seharusnya menjadi hunian ideal baginya menjadi areal buang sampah bagi pengendara. Pengendara yang melintasi jalan membelah hutan Karaenta, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.
Jalan propinsi yang membelah habitatnya. Habitatnya berupa hutan karst ratusan hektar. Hunian yang menjadi tempat ia mencari makan, tempat berlindung dari hujan dan terik hingga tempat beristirahat di kala gelap tiba. Pohon-pohon besar adalah pilihan terbaik bagi mereka sebagai “pohon tidur”. Pohon bercabang dan berdahan kekar menjadi pilihan untuk melindunginya dari dinginnya malam. Pohon beringin-lah yang menjadi pohon favorit mereka menikmati gegap gemintang di malam hari.
Lintasan warga antar kabupaten ini pun kemudian memberi dampak buruk bagi penghuni hutan ini. Habitat mereka menjadi kotor karena ulah para pengendara. Menjadikannya tempat sampah besar.
Satu dua pengendara iseng membuang sampah di tepian jalan saat melintas. Namun karena berlangsung dalam kurung waktu tak sebentar membuat sampah-sampah ini kemudian menumpuk. Bahkan, terkadang bisa kita temui sampah-sampah dalam jumlah yang melimpah di satu tempat. Terkadang di antara pengendara memang sengaja membuang sampahnya di sana. Entah itu sisa bangunan, ataukah sisa sampah rumah tangga yang mereka bungkus dengan plastik ataupun dengan karung.
Sampah-sampah ini pula yang juga memancing satwa menghampiri tepian jalan. Mengais sampah-sampah, berharap ada makanan sisa dari sana.

Beberapa pengendara juga kerap kali kedapatan memberi kawanan monyet ini dengan makanan. Makanan berupa biskuit, wafer, kacang, atau bahkan sengaja membeli pisang untuk si monyet. Jadilah beberapa kawanan monyet ini menjadikan jalan raya sebagai salah satu sumber makanan. Menyetel dalam bawah sadarnya bahwa di tepian jalan ada makanan yang bisa mereka peroleh dari orang-orang yang iba.
Merasa iba pada kawanan monyet. Merasa bahwa mereka tidak punya makanan di hutan. Padahal kenyataannya berbanding terbalik. Hutan tempat mereka bernaung menyediakan segalanya bagi mereka. Menyediakan lebih dari sekedar kebutuhannya.
Apa makanan monyet hitam sulawesi ini? Makanan mereka adalah buah, pucuk daun, dan serangga. Kadang+kadang mereka juga mengincar reptil atau pun burung kecil.
Untuk menjaga keaslian habitat pemilik nama latin Macaca maura ini, pihak pengelola Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung rutin melakukan pembinaan habitat. Menjaga habitatnya dengan menyingkirkan sampah-sampah plastik yang mengotori rumahnya. Sepuluh tahun terakhir, pihak taman nasional bekerjasama dengan sejumlah pihak melakukan aksi bersih sampah di hutan Karaenta.

Hutan Karaenta berada di Resor Pattunuang pada Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Cenrana. Karena itu, ada petugas taman nasional yang selalu memantau aktivitas di hutan ini. Termasuk memonitor hal-hal yang dapat mengganggu kelancaran arus kendaraan di hutan ini, seperti pohon tumbang ataupun longsor.
Dua tahun terakhir, Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung menjalin kerja sama dengan Universitas Hasanuddin melakukan bersih sampah di Karaenta. Tahun lalu, tepatnya Selasa, 2 Desember 2025 melakukan aksi bersama menghalau sampah bersama mahasiswa Program Studi Konservasi, Fakultas Kehutanan, Unhas.
Hari itu, sebanyak 70 mahasiswa, petugas taman nasional, dan KPE Bislab melakukan aksi bersama. Mereka berhasil mengumpulkan 8 trashbag sampah plastik dan sampah rumah tangga.
Awal tahun ini, tepatnya 3 Februari 2026 kembali melakukan aksi serupa. Kali ini mahasiswa Prodi Konservasi yang terlibat lebih riuh. Menerjunkan 75 mahasiswanya dengan perlengkapan lengkap. Sarung tangan, kantong sampah besar, karung, dan helem keselamatan.

Begitu pun petugas taman nasional dan KPE Bislab, turun dengan peralatan mumpuni berupa karung sampah, sarung tangan, dan kendaraan roda tiga sebagai pengangkut sampah. Sedikitnya 15 orang petugas taman nasional dan KPE yang turut serta.
Puluhan mahasiswa dan petugas taman nasional ini nampak kompak menyisir sampah plastik sepanjang habitat Macaca ini. Nampak Dr. I Putu Supadma, Dosen Fahutan Unhas, mengarahkan mahasiswa dengan cekatan. Mereka begitu antusias. Tak kenal perempuan atau laki-laki berjibaku dengan sampah-sampah yang mengotori habitat satwa ini.
Mahasiswa, petugas taman nasional dan warga yang tergabung dalam kelompok pengelola ekowisata ini menyisir habitat Macaca sepanjang jalan Karaenta. Menyisir habitat Macaca maura Kelompok A, Kelompok B, Kelompok H, dan Kelompok G. Ya.. monyet hitam sulawesi dikenal sebagai satwa sosial, hidup secara berkelompok.
Karena itu, dalam kurung waktu beberapa jam mereka berhasil mengumpulkan sedikitnya 20 trashbag dan karung sampah. Berat sampah yang terkumpul diperkirakan sekitar 0,8 ton. Sampah-sampah ini kemudian mereka buang di tempat penampungan sementara milik Pemda setempat.

“Kami sampaikan terima kasih kepada teman-teman mahasiswa Prodi Konservasi yang telah berpartisipasi pada aksi bersama ini,” pungkas Surapil, Kepala Resor Pattunuang saat kami temui di lokasi kegiatan.
Dosen pendamping mahasiswa pun menyampaikan hal serupa. Merasa berterima kasih telah difasilitasi lokasi untuk melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat sebagai implementasi tridharma perguruan tinggi. Mengizinkan untuk melakukan aksi bersih sampah sekaligus praktek umum konservasi di hutan Karaenta.
“Saya menghimbau kepada pengendara yang melintas di hutan Karaenta agar tidak membuang sampahnya sembarangan. Mengingat hal ini membahayakan kesehatan satwa di sana,” imbau Abdul Rajab, Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.
Semua nampak sumringah. Tak peduli gerimis yang datang lebih pagi hari itu. Mereka selalu siap walau harus mengenakan jas hujan.
Begitulah manusia-manusia yang mengabdikan diri pada alam. Ada kenikmatan tersendiri bercengkrama dengan hutan, udara bersih, dan satwa-satwa penghuninya.
Semoga dengan bersihnya habitat si dare – nama lokal si monyet, membuatnya lebih nyaman dan betah di rumah hijaunya.
“Saya juga kuatir karena semakin sering kawanan monyet ini turun ke jalan akan membahayakan keselamatannya. Mengapa? Karena jalan di sana sudah mulus sehingga pengendara lebih laju dan anggota kelompok Macaca yang menyebrang jalan rawan tertabrak. Jadi mohon kesadarannya,” tambah kepala balai.
Penulis: Taufiq Ismail Al Pharepary – PEH Ahli Muda TN Babul