Pendahuluan
TN Bantimurung Bulusaraung tak bisa lepas dari julukan “The Kingdom of Butterfly”. Julukan yang mengemuka pasca perjalanan Alfred Russel Wallace yang berkunjung ke wilayah Maros dan sekitarnya termasuk Bantimurung, pada bulan Agustus hingga November 1857. Hasil eksplorasinya dituangkan dalam jurnal The Malay Archipelago. Selama perjalanannya, Wallace berhasil mengumpulkan spesimen 232 jenis kupu-kupu (Lepidoptera) yang terdiri dari 139 jenis Papilionoidea, 70 jenis moths, dan 23 jenis skipper (Hesperiidae).
Tak hanya jumlah spesimen yang dikumpulkannya yang menarik, namun penggambaran Wallace tentang kelimpahan kupu-kupu di danau yang ada di atas air terjun Bantimurung (danau Kassi Kebo) juga menjadi daya tarik tersendiri bagi para naturalis dan eksplorer lainnya untuk melakukan eksplorasi lanjutan di Bantimurung dan sekitarnya.
Sejak itu pula lah Bantimurung semakin dikenal sebagai kerajaan kupu-kupu (The Kingdom of Butterfly). Image ini tak hanya menarik bagi para kolektor kupu-kupu, namun juga menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan untuk berkunjung dan menikmati suasana air terjun dengan atraksi kupu-kupu yang menarik. Pemerintah Belanda bahkan kemudian menjadikannya sebagai kawasan perlindungan alam hingga kemudian pemerintah Indonesia pasaca kemerdekaan menetapkannya kembali sebagai kawasan Taman Wisata Alam Bantimurung dan Cagar Alam Bantimurung.
Pada 18 Oktober 2004, status tersebut kemudian berubah menjadi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Sejak penunjukkan kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung tersebut, kupu-kupu pun menjadi salah satu fokus penting dalam pengelolaan keanekaragaman hayati dan ekosistemnya. Eksplorasi kupu-kupu di kawasan taman nasional ini dilakukan sejak tahun 2010 yang dilanjutkan dengan kegiatan monitoring populasi kupu-kupu secara rutin setiap tahunnya di 3 site monitoring, yaitu Resort Bantimurung, Resort Pattunuang, dan Resort Balocci (Kampoang dan Amarae).
Rangkaian kegiatan tersebut berhasil menghimpun data perkembangan jumlah spesies dan dinamika populasi kupu-kupu di masing-masing site monitoring. Identifikasi spesies dilakukan dengan seteliti mungkin, mengacu pada berbagai data rujukan dan literatur yang dapat dipercaya.
Setidaknya ada 285 spesies kupu-kupu dari superfamily Papilionoidea yang teridentifikasi dijumpai di dalam kawasan TN Bantimurung Bulusaraung. Spesies-spesies tersebut terbagi ke dalam 6 family, yaitu Papilionidae, Nymphalidae, Pieriidae, Lycaenidae, Riodinidae, dan Hesperiidae.

Kekayaan Spesies
“The Kingdom of Butterfly” menyiratkan kelimpahan kekayaan kupu-kupu TN Bantimurung Bulusaraung yang sangat tinggi. Tempat ini menjadi rumah bagi banyak spesies kupu-kupu. Data terbaru menyebutkan tak kurang dari 285 spesies kupu-kupu dari super family Papilionoidea telah berhasil teridentifikasi di kawasan pelestarian alam ini.
Sebagai bagian kecil dari Pulau Sulawesi, TN Bantimurung Bulusaraung merupakan salah satu sentral kekayaan kupu-kupu untuk Sulawesi dan sekitarnya. Vane-Wright & De Jong (2003) berhasil mengidentifikasi 557 spesies Papilionoidea di Sulawesi dan pulau-pulau sekitarnya (Sulawesi Region). Dengan kata lain, jumlah spesies kupu-kupu di TN Bantimurung Bulusaraung adalah 51,17% dari jumlah spesies di Sulawesi dan sekitarnya. Atau dapat dikatakan bahwa lebih dari setengah jumlah total spesies kupu-kupu Sulawesi dapat djiumpai di kawasan TN Bantimurung Bulusaraung.
Merujuk pada data spesies kupu-kupu di Indonesia tidak ada data pasti yang dapat dijadikan acuan. Namun berdasarkan infografis keanekaragaman hayati Indonesia yang dirilis oleh pemerintah Indonesia dalam www.indonesia.go.id pada tahun 2018 menyebutkan bahwa Indonesia memiliki kekayaan jenis kupu-kupu mencapai sekitar 1.900 spesies. Dimana 30% diantaranya merupakan spesies endemik. Belum diperoleh update data terbaru terkait jumlah spesies kupu-kupu di Indonesia. Mengacu pada data tersebut, maka jumlah spesies kupu-kupu di TN Bantimurung Bulusaraung setara dengan 15% dari jumlah spesies kupu-kupu di Indonesia.
Secara global, mengacu pada data Catalog of Life (https://www.catalogueoflife.org/data/taxon/5G9 diakses 7 November 2025), kupu-kupu hanya menjadi bagian kecil dari ordo Lepidoptera. Kupu-kupu yang dalam hal ini digolongkan sebagai subordo Rhopalocera pada superfamily Papilionoidea hanya beranggotakan sekitar 13,18% dari keseluruhan spesies pada ordo Lepidoptera di seluruh dunia. Lepidoptera yang terdata di dunia adalah 181.464 spesies, sedangkan superfamily Papilionoidea hanya berjumlah 20.988 spesies sehingga sisanya sekitar 160.476 spesies adalah tergolong sebagai moths atau kupu-kupu malam. Superfamily Papilionoidea terbagi dalam 7 family, yaitu: Nymphalidae (6.860 spesies), Lycaenidae (6.594 spesies), Hesperiidae (3.862 spesies), Riodinidae (1.707 spesies), Pieriidae (1.179 spesies), Papilionidae (748 spesies), dan Hedylidae (34 spesies). Seluruh family pada superfamily papilionoidae tersebut dapat dijumpai di kawasan TN Bantimurung Bulusaraung, kecuali Hedylidae yang hanya dijumpai di Amerika.
Jika diperbandingkan jumlah speses pada tiap-tiap family kupu-kupu di TN Bantimurung Bulusaraung dengan data kupu-kupu Sulawesi dan sekitarnya dan data kupu-kupu di seluruh dunia, maka dapat disajikan sebagai berikut:
Tabel 1. Jumlah spesies kupu-kupu di Dunia, Sulawesi, dan TN Bantimurung Bulusaraung
Perkembangan Spesies List TN Bantimurung Bulusaraung
TN Bantimurung Bulusaraung sejak awal pengelolaannya telah berfokus untuk mengeksplorasi kupu-kupu. Serangkaian kegiatan identifikasi dan monitoring kupu-kupu telah dilaksanakan.
Tren data perkembangan daftar spesies dalam kawasan TN Bantimurung Bulusaraung terus bertambah. Hampir setiap tahun, terdapat spesies kupu-kupu pada superfamily Papilionoidea yang berhasil teridentifikasi.

Baseline data yang digunakan adalah hasil identifikasi dan pemetaan sebaran kupu-kupu yang dilakukan pada tahun 2010. Pada kegiatan tersebut berhasil diidentifikasi 133 spesies kupu-kupu.
Tahun 2011, kegiatan identifikasi kupu-kupu dilakukan lebih intensif. Kegiatan ini dilaksanakan rutin setiap bulan di 2 lokasi, yaitu SPTN Wilayah I Balocci dan SPTN Wilayah II Camba. Hasil kegiatannya sangat signifikan. Jumlah spesies yang teridentifikasi bertambah 60 spesies, sehingga jumlah data spesies kupu-kupu TN Bantimurung Bulusaraung menjadi 193 spesies.
Kegiatan serupa dilanjutkan pada tahun 2012 dengan lokasi, durasi, frekuensi, dan waktu pelaksanaan yang sama. Hasilnya spesies kupu-kupu TN Bantimurung Bulusaraung bertambah menjadi 226 spesies.
Tahun 2013 hingga tahun 2014, data spesies tersebut tidak bertambah. Penambahan yang cukup signifikan terjadi di tahun 2015. Penambahan jumlah tersebut merupakan hasil kompilasi data dari berbagai sumber, baik laporan maupun hasil penelitian dengan lokasi di kawasan TN Bantimurung Bulusaraung, serta hasil pengamatan di tahun 2014 dan re-identifikasi spesiimen kupu-kupu hasil identifikasi di tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun 2015 ini terdata 242 spesies kupu-kupu.
Mulai tahun 2014, kegiatan monitoring kupu-kupu mulai rutin kembali dilaksanakan, meskipun durasi dan frekuensinya sangat terbatas. Dari hasil kegiatan tersebut, didukung oleh kegiatan lapangan lainnya dan pengelolaan sanctuary kupu-kupu secara intensif, data spesies kupu-kupu masih terus mengalami penambahan data spesies teridentifikasi.
Tahun 2016 hingga 2023 penambahan spesies teridentifikasi sangat bervariasi setiap tahunnya. Tahun 2016, teridientifikasi kehadiran Troides oblongomaculatus di sekitar Kalabbirang. Tahun 2017 kembali teridentifikasi kehadiran 1 spesies baru, yaitu Zizula hylax. Selanjutnya berturut-turut dijumpai adanya spesies baru lainnya, yaitu Yphtima philomela, dan Bindahara pochides (2019); Drupadia theda, Elymnias hypermnestra, dan Lonolyce helicon (2021); Delias zebuda dan Mynbrenthia hippalus (2023). Beberapa tahun lainnya justru tidak menemukan adanya spesies baru.
Tahun 2024, peningkatan jumlah spesies kembali melonjak tajam. Pada tahun tersebut data spesies kupu-kupu pada famili Hesperiidae dimasukkan sebagai bagian dari superfamili Papilonoidae. Hesperiidae yang teridentifikasi berjumlah 30 spesies. Dengan demikian jumlah spesies teridentifikasi tahun 2024 meningkat menjadi 283 spesies, termasuk perjumpaan perdana dengan Lybithea narina di Kampoang.
Perkembangan terakhir, yaitu di akhir tahun 2025, data base spesies list kupu-kupu TN Bantimurung Bulusaraung yang berhasil teridentifikasi meningkat menjadi 285 spesies setelah teridentifikasinya Lohora erna dan Udara cammenae. Kedua spesies tersebut dijumpai dalam kegiatan eksplorasi Tondong Karambu di sekitar air terjun Makkajunge, Mallawa.
Penambahan spesies ini adalah hal yang masih mungkin terjadi. Kegiatan monitoring populasi kupu-kupu yang secara rutin dilakukan dan kegiatan ekplorasi lainnya membuka peluang dijumpainya spesies baru yang belum terdata. Kemampuan identifikasi pun sangat menentukan validasi dan akurasi data yang dihasilkan. Ketersediaan literatur dan referensi yang memadai juga menjadi salah satu faktor pendukung berhasilnya upaya identifikasi kupu-kupu. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas, konsistensi dan keterbukaan informasi menjadi hal penting untuk mendukung upaya pelestarian kupu-kupu TN Bantimurung Bulusaraung.
Penulis: Tim Sanctuary Kupu-kupu
Referensi:
Amal, Ida dan Agung Nugroho. 2024. Kupu-kupu Sekitar Kita. DIVA Press. Yogyakarta
Anonim. 2010. Wildlife Trade Regulation in the European Union. European Union. Belgium.
Balai TN Bantimurung Bulusaraung. 2014 s.d 2025. Laporan kegiatan Monitoring Populasi Kupu-kupu (kumpulan)
Catalog of Life. 2026. https://www.catalogueoflife.org/data/taxon/5G9 diakses 6 Januari 2026.
D’Abrera, Bernard F.R.E.S. 1971. Butterflies of The Australian Region. Lansdowne. Hongkong.
Handayani, Suci Achmad dkk. 2017. Sanctuary Kupu-Kupu Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Balai TN Bantimurung Bulusaraung dan PT. Pertamina Depot LPG Makassar. Maros.
Handayani, Suci Achmad, dkk. 2018. Metamorfosa. Balai TN Bantimurung bulusaraung. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Maros
Peggie, Djunijanti, M.Sc., Ph.D. 2014. Mengenal Kupu-kupu. Pandu Aksara Publishing. Jakarta
Phillips, Honor. 2024. A Naturalist’s Guide To The Butterflies of Borneo Sabah, Serawak, Brunei, and Kalimantan. John Beaufoy Publishing Ltd. in assosiation with the Forest Institute Malaysia. Oxford, United Kingdom.
Ross, Herbert H. & Charles A. Ross, Juni R.P. Ross. 1982. A Textbook of Entomology Fourth Edition. Cacho Hermanos, Inc. Manila
Tsukada, Etsuzo and Yasusuke Nishiyama. 1982. Butterflies of The South East Asian Islands Vol. 1 Papilionidae. Plapac Co., Ltd. Tokyo, Japan.
Vane-Wright, R.I. & De Jong. 2003. The Butterflies Of Sulawesi: Annotated Cheklist for Critical Island Fauna. Zool. Verh. Leiden 343. Belanda.
Wallace, Alfred Russel, 1890. The Malay Archipelago, Periplus Edition (HK) Ltd. Singapore
Written et al. 2002. The Ecology of Indonesia. Series Volume IV: The Ecology of Sulawesi. Periplus Editoin (HK) Ltd. Singapore