Gunung Bulusaraung: Puncak Tertinggi Ekosistem Karst Bantimurung Bulusaraung

Lokasi Jatuhnya Pesawat ATR 42-500.

Oleh : Chaeril, S.Hut., M.P (PEH Ahli Madya) dan Erista Murpratiwi, S.Hut., M.Eng., M.Sc (Penyuluh Kehutanan Muda)

Seluruh mata menuju Gunung Bulusaraung pada Sabtu, tanggal 17 Januari 2026. Pesawat ATR 42-500 dilaporkan jatuh di kawasan TN Bantimurung Bulusaraung pada pukul 13.17 WITA yang terakhir terdeteksi pada koordinat 04°57’08’’ LS dan 119°42’54’’ BT. Hingga 18 Januari 2026 dipastikan pesawat tersebut jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung berdasarkan informasi dari saksi mata seorang pendaki. Pencarian dan penelusuran dilakukan oleh berbagai pihak dan tergabung dalam Tim SAR Gabungan.

Serpihan ditemukan di puncak 2 Gunung Bulusaraung yang kemudian teridentifikasi sebagian bagian dari pesawat tersebut. Balai TN Bantimurung Bulusaraung (TN Babul) turut terlibat dalam proses pencarian bagian pesawat dan korban. Guna mendukung proses pencarian di medan yang berat tersebut, Balai TN Babul memanfaatkan aplikasi SMART Patrol, Avenza maps, dan google earth untuk pemetaan lokasi dan jalur evakuasi.

Hingga pada Jumat 23 Januari 2026, evakuasi dan pencarian resmi dihentikan setelah seluruh korban sebanyak 10 orang berhasil ditemukan. Untuk mengetahui lebih lanjut, seperti apa Gunung Bulusaraung, berikut informasi seputar kondisi lanskap, ekologis, hingga aktivitas wisata pendakian Bulusaraung.

Kondisi Lanskap

Puncak Bulusaraung yang berkabut saat proses evakuasi pesawat ATR 42-500 (photo credit: Indra Pradana, 2026)

Gunung Bulusaraung merupakan salah satu pegunungan di Sulawesi Selatan yang sebagian besar tersusun oleh batuan gamping (batu kapur), yang menjadi ciri khas Formasi Tonasa. Namun demikian, bagian puncaknya tersusun atas litologi andesit yang merupakan hasil intrusi batuan beku. Sebagai kawasan karst, Gunung Bulusaraung memiliki medan yang sangat terjal, ditandai oleh tebing-tebing curam, bebatuan tajam, serta keberadaan gua-gua di sekitarnya. Gunung ini terletak di dalam kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung dan menjulang di atas Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan.

Kondisi cuaca di Gunung Bulusaraung tergolong dinamis dan sangat dipengaruhi oleh pola iklim musiman. Pada periode Oktober hingga Februari, kawasan ini relatif berisiko untuk aktivitas pendakian karena tingginya intensitas curah hujan. Hujan yang kerap disertai angin dapat berlangsung selama kurang lebih tiga hari berturut-turut. Sebaliknya, kondisi cuaca cenderung kering terjadi pada bulan Juli hingga September, yang sekaligus menjadi puncak musim pendakian. Berdasarkan kondisi tersebut, Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung menerapkan mekanisme pembukaan dan penutupan jalur pendakian dengan dukungan data serta informasi dari BMKG terkait kondisi cuaca harian dan bulanan. Informasi mengenai cuaca ekstrem ini secara rutin diumumkan oleh BMKG melalui pengumuman resmi.

Pendakian

Upacara peringatan HUT-RI di puncak Bulusaraung (photo credit : Indra Pradana, 2025)

Gunung Bulusaraung kini menjadi salah satu destinasi pendakian favorit di Sulawesi Selatan. Jalur pendakiannya relatif mudah dilalui dengan penanda yang jelas, meskipun tetap menantang karena kemiringannya yang curam. Puncaknya menyuguhkan panorama lanskap karst yang memukau serta menjadi lokasi ideal untuk menikmati matahari terbit (sunrise) maupun terbenam (sunset). Namun, dengan ketinggian 1.353 mdpl, puncak gunung ini kerap tertutup kabut. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh tingginya kelembapan udara serta rapatnya vegetasi hutan yang memicu terbentuknya kondensasi dan iklim mikro.

Gunung Bulusaraung memiliki jalur pendakian yang tertata dengan baik, dilengkapi sembilan pos perhentian. Pos 9 berfungsi sebagai area perkemahan (camping ground) yang telah dilengkapi dengan shelter dan sumber air bersih. Dari pos ini, pendaki hanya memerlukan waktu sekitar 30 menit untuk mencapai puncak. Pos 9 ditetapkan sebagai lokasi perkemahan karena Puncak Bulusaraung tidak diperkenankan untuk kegiatan berkemah. Kondisi puncak yang berangin kencang dan sering diselimuti kabut tebal menjadikannya tidak aman dan tidak layak sebagai area perkemahan. Oleh karena itu, Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung melakukan penataan khusus pada area perkemahan di Pos 9 guna menjamin kenyamanan dan keselamatan pendaki.

Nilai ekologis

Selain menawarkan keindahan alam, Gunung Bulusaraung juga memiliki nilai ekologis yang tinggi. Kawasan pegunungan ini merupakan hutan dengan vegetasi rapat yang menyimpan keanekaragaman hayati yang melimpah. Salah satu ciri khas vegetasinya adalah dominasi 43 spesies tanaman dari genus Ficus. Kekayaan flora tersebut mendukung keberlangsungan hidup berbagai satwa endemik, seperti Julang Sulawesi, Kuskus, Tarsius, dan Monyet Hitam Sulawesi yang masih sering dijumpai. Bahkan, Musang Sulawesi yang selama ini sulit ditemukan di habitat lain berhasil terdokumentasi di kawasan ini melalui penggunaan kamera jebak. Keberadaan satwa-satwa tersebut menjadi indikator kuat bahwa ekosistem Gunung Bulusaraung masih terjaga dengan baik dan mampu menyediakan sumber pakan yang memadai.

 

Sumber : Instagram Balai TN Bantimurung Bulusaraung (@btn_bantimurungbulusaraung)

Tags :

Bagikan :