Bukan sekadar ajang pertemuan, kegiatan ini menjadi ruang strategis untuk mempertemukan ide, inovasi, dan peluang pasar bagi produk masyarakat. Selasa (28/4), bertempat di Makassar, telah diselenggarakan Temu Karya Penyuluh Kehutanan oleh BP2SDM Wilayah VI Makassar. Kegiatan ini turut berpartisipasi Penyuluh Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung mempromosikan produk hasil binaannya

Produk Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) di kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung saat ini menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan. Namun demikian, berbagai bantuan yang telah diberikan, khususnya berupa peralatan pengolahan produk belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal oleh kelompok binaan. Kondisi ini mendorong para penyuluh kehutanan untuk berpikir kreatif dalam mencari solusi, agar produk mentah yang dihasilkan masyarakat tetap memiliki nilai jual dan mampu bersaing di pasar.
Sebagai upaya menjawab tantangan tersebut, dalam kegiatan Temu Karya Penyuluh Kehutanan yang diselenggarakan oleh BP2SDM, disediakan satu sesi khusus bagi para penyuluh untuk memperkenalkan produk HHBK dari desa binaan masingmasing. Berbagai produk ditampilkan dalam kegiatan ini, antara lain gula merah, madu hutan, minuman herbal jahe, kopi dalam bentuk bubuk maupun biji, tusuk sate, tumbler bambu, hingga empon-empon dalam bentuk mentah.

Menariknya, produk dalam bentuk bahan mentah justru tidak kalah diminati dibandingkan produk olahan. Fenomena ini terlihat dari tingginya minat pasar terhadap komoditas seperti jahe putih, jahe merah, kunyit, lengkuas, dan sereh yang ditawarkan secara langsung tanpa melalui proses pengolahan. Tren gaya hidup sehat yang semakin berkembang di masyarakat menjadi salah satu faktor pendorong meningkatnya permintaan terhadap bahan-bahan alami tersebut. Konsumen kini cenderung memilih produk yang dianggap lebih segar, minim proses, dan memiliki khasiat langsung bagi kesehatan.

Kondisi ini membuka peluang baru sekaligus menjadi tantangan bagi penyuluh dan kelompok binaan untuk lebih adaptif dalam membaca preferensi pasar. Selama ini, pengembangan usaha lebih banyak difokuskan pada diversifikasi produk olahan, namun dari berbagai pameran yang telah dilakukan termasuk dalam pertemuan ini, terlihat jelas bahwa produk mentah memiliki peluang pasar yang nyata dan menjanjikan. Artinya, pendekatan pengembangan usaha tidak lagi dapat bertumpu pada satu strategi semata, melainkan perlu mengakomodasi potensi produk mentah sebagai alternatif yang mampu langsung menangkap kebutuhan pasar.
Selain itu, keunggulan produk mentah terletak pada kesegarannya karena dipanen langsung oleh petani anggota kelompok binaan, kemudian dibersihkan dan segera dipasarkan tanpa melalui rantai distribusi yang panjang. Hal ini memungkinkan harga jual yang lebih kompetitif, bahkan cenderung berada di bawah harga pasar. Kondisi tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen, khususnya kalangan ibu rumah tangga yang sangat peka terhadap kualitas dan harga, sehingga produk yang segar, terjangkau, dan berasal langsung dari tangan pertama memiliki nilai lebih di mata pasar. Dengan demikian, produk mentah tidak hanya menjadi pelengkap, tetapi juga dapat diposisikan sebagai strategi utama dalam meningkatkan ekonomi masyarakat berbasis HHBK.

Temu penyuluh tersebut mengusung tema “HEBAT” (Handal, Empati, Berani, Adaptif, dan Tangguh). Dalam arahannya, Kepala BP2SDM Kementerian Kehutanan, Indra Exploitasia menekankan bahwa penyuluh kehutanan diharapkan mampu berperan sebagai knowledge broker, yaitu penghubung strategis antara masyarakat dengan berbagai pihak seperti pemerintah, NGO, dunia usaha, dan LSM.
Sejalan dengan tema tersebut, cara pandang penyuluh juga diharapkan semakin adaptif dan berani membaca peluang, termasuk dalam melihat potensi produk mentah sebagai bagian dari strategi pengembangan usaha. Dengan peran tersebut, penyuluh diharapkan mampu menjembatani kebutuhan, peluang, serta pengembangan potensi HHBK
secara berkelanjutan. Dengan semangat kolaborasi dan inovasi yang terus dibangun, diharapkan produk HHBK tidak hanya bertahan di pasar lokal, tetapi juga mampu menembus pasar yang lebih luas serta menjadi penggerak ekonomi masyarakat berbasis hutan yang berkelanjutan.

Penulis : Arini Puspita Lestari, S.Hut., M.I.Kom (Penyuluh Kehutanan Muda)